Jumat, 24 Juli 2009

URGENSI TAQWA

Mengutip dari sebuah kitab Al-Mufrodat Fii Ghoriibil Qur'an Karya Abu al-Qosim al-Husaini bin Muhammad yang dikenal dengan panggilan ar-Roghiib al-Isfahani menjelaskan: kata at-Taqwa yang asal kata waqo__al-wiqooyah adalah memelihara sesuatu dari hal-hal yang akan menyakiti dan merusaknya. Dikatakan Waqoitu asy-syay'a aqiihi wiqooyatan wa wiqoo'an (aku memelihara sesuatu); Fa waqoohumulloh (Maka, Alloh memelihara mereka); wa waqoohum 'adzaabassa'iir (dan Dia memelihara mereka dari siksaan neraka); quu anfusakum wa ahliikum naaroo (peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka).

At-taqwa (ketaqwaan) adalah menjadikan jiwa dalam pemeliharaan dari hal-hal yang ditakutkan. Inilah kajiannya. Dalam definisi syariat, at-taqwa adalah pemeliharaan jiwa dari hal-hal yang membuat dosa. Hal itu dilakukan dengan meninggalkan segala larangan, dan menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian perbuatan harom berdasarkan riwayat: “Kehalalan itu jelas dan keharoman juga jelas. Barangsiapa mengelilingi perlindungan, maka ia lebih pantas jatuh kedalamnya”.

Al-Qur'an memfokuskan pentingnya ketaqwaan dalam banyak ayat. Diantaranya adalah ayat-ayat berikut:”Hai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Alloh Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (QS. Al Hasyr/59 ayat 18). Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Alloh adalah orang yang bertaqwa diantara kalian. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurot/49 ayat 13).

Di akhir ayat ini, Alloh SWT mengingatkan bahwa kemuliaan yang haqiqi hanyalah dengan ketaqwaan kepada Alloh SWT. Substansi kedekatan kepada Alloh SWT berputar pada poros ketaqwaan, bukan poros tingkatan-tingkatan keduniaan berupa harta, harta, pangkat, keturunan, dan leluhur. Hal itu karena manusia dijadikan selalu mencari sesuatu yang membedakannya dari selainnya dan mengistimewakannya diantara teman-temannya berupa kemuliaan dan kehormatan.

Kebanyakan orang karena keterkaitan dengan kehidupan dunia melihat kemuliaan dan kehormatan dalam aspek-aspek kehidupan materi berupa harta, kecantikan, keturunan, leluhur dan sebagainya, sehingga mereka mencurahkan segala upaya untuk mencari dan memperolehnya untuk saling membanggakan diri dengannya dan mengungguli orang lain. Ini merupakan aspek-aspek yang bersifat ilusi yang tidak mendatangkan kemuliaan dan kehormatan kepada mereka sedikitpun selain menjatuhkan mereka kedalam kebinasaan dan kesengsaraan. Kemuliaan yang haqiqilah yang membawa manusia pada kebahagiannya yang haqiqi dan kehidupannya yang baik lagi abadi disisi Alloh Yang Maha Mulia.

Hal itu hanya dapat dicapai dengan ketaqwaan kepada Alloh SWT dan merupakan satu-satunya cara menuju kebahagiaan dinegeri akhirat, serta diikuti kebahagiaan di dunia. Alloh SWT berfirman: “Kalian menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Alloh mengendaki akhirat (QS. Al-Anfal/8 ayat 64). Jika kemuliaan hanya diperoleh dengan ketaqwaan maka manusia yang paling mulia disisi Alloh SWT adalah orang yang paling bertaqwa, sebagaimana yang telah dinyatakan dalam ayat-ayat yang penuh berkah itu.

Semoga kita diberikan kekuatan oleh Alloh SWT untuk selalu beristiqomah dalam ketaqwaan guna mencapai derajat kemuliaan disisi-Nya. Amin Ya Robbal 'aalamiin

Tidak ada komentar: