Jumat, 05 Juni 2009

Kembali Ke Tauhidullah


Kata Tauhid dalam gramatika B. Arab, merupakan bentuk masdar dari kata kerja Tawaahada (Tafaa'ala) yang artinya meng-Esakan. Sehingga Tauhidulloh arti lengkapnya adalah meng-Esakan Allah. Esa dalam zat-Nya juga Esa dalam sifat-Nya.Rasulullah SAW, bersabda: “ Aku disuruh supaya memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan kecuali Allah dan bahwa Muhamad adalah utusan Allah, mendirikan shalat dan membayar zakat

Berdasarkan hadist diatas kita bisa mengetahui bahwa menanamkan akidah (Tauhidullah) dikalangan umat manusia, merupakan pangkal bit'sah kenabian Muhammad Rasulullah SAW. Itu pulalah yang secara mendasar membedakan agama islam yang diabawa Rasululloh Muhammad SAW, dari agama-agama lain yang di peluk oleh umat manusia pada masa itu (Jahiliyah). Bukan suatu kebetulan dan bukan pula tanpa tujuan kalau ayat-ayt al-Quran yang turun di Makkah(surat Makiyyah) selama 13 tahun menekankan suatu persoalan pokok, yaitu soal ke-Esaan Allah, yakni suatu akidah yang tanpa ragu-ragu mempercayai dan meyakini tiada suatu apapun yang berhak disembah selain Allah.

Rasulullah berjuang meluruskan Tauhid orang Arab Mekah bukan semata-mata karena orang Arab pada jaman itu tenggelam dalam kemaksiatan dan kemunkaran serta penyembahan berhala tetapi karena soal Tauhid merupakan poros semua segi kehidupan manusia. Tidak ada apapun yang lurus dan benar, kecuali jika aqidah mengenai ke-Esaan Allah(Tauhidulloh) telah lurus dan mantap di dalam pikiran dan perasaan kita. Sebab aqidah itulah yang melandasi semua segi kehidupan dan perilaku kita. Baik buruknya amaliyah seseorang bergantung kepada sejauh mana nilai Tauhidullah yang dimilikinya. Dengan kata lain aqidah (Tauhidullah) merupakan pondasi pergerakan manusia. Baik buruknya amaliyah seseorang bergantung kepada sejauh mana nilai Tauhidullah yang dimilikinya.

Kenyataan tersebut dapat kita buktikan dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat menyaksikan dengan mudah, betapa banyak manusia berbuat serong dan menyeleweng dari syariat Islam, sedemikian jauh akibat penyelewengan fikiran mereka mengenai soal ketuhanan. Tidak sedikit orang yang mengakui keberadaan Allah sebagai Dzat yang Maha Kuasa, tetapi pengakuan mereka tidak di sertai fikiran sehat, fikiran bulat, tidak disertai kepercayaan yang mantap dan tidak pula disertai tekad yang bulat.

Padahal sedikitnya dalam shalat lima waktu kita selalu mengulang-ulang kalimat Tauhid sebagai bentuk penyerahan dan pengakuan akan ke-Maha Esaan dan ke-Mahabesaran Allah SWT. Dalam kalimat tersebut kita berikrar bahwa: “ Ashadu an-laa ilaha illallahu wa-ashadu anna Muhammadarrosuululloh ” Saya bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan selian Allah, dan Muhammad itu utusan Allah.

Kalimat “laa ilaha illalloh” yang artinya tiada tuhan selain Alloh, mengandung dua hal, pertama, an-nafyu/peniadaan, dan yang kedua adalah al-itsbat/penetapan. Dalam kalimat ini, pertama Alloh meniadakan keberadaan sekutu bagi diri-Nya, selain itu, dia mempermaklumkan keesaan-Nya. “laa ilaha illalloh” yang artinya tiada tuhan selain Alloh. Walaupun banyak tuhan-tuhan selain-Nya yang pernah disembah suatu kaum dalam kurun waktu tertentu, baik berupa patung-patung ataupun bintang-bintang, jelaslah bahwa seluruh sembahan itu adalah batil. Kebenaran tiada tuhan melainkan Alloh terbukti dengan tidak adanya tandingan dari tuhan-tuhan lain yang membuktikan bahwa mereka tuhan.

Hal ini diperkuat dengan adanya ungkapan ''Laa ilah” dimana huruf laa untuk peniadaan, dan ketika kita sempurnakan dengan illa Allah, maka huruf Illa berpungsi untuk menetapkan. Maka dengan demikian kalimat “laa ilaha illalloh” maknanya tiada tuhan selaian Alloh yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya tidak ada yang layak disembah dengan hak selain Alloh. Dan kata“Allah” adalah sesuatu Zat yang wajib al wujud (harus ada) atau bersipat mutlak keberadaannya.
Walllahu a'alam

Tidak ada komentar: