Dalam kehidupan yang penuh dengan kenikmatan, terkadang kita terlena oleh kenikmatan tersebut. Begitupun bila hidup di rundung dengan kesedihan, sering kali kita terjebak dengan kesedihan itu, sehingga akhirnya tak ada gairah untuk melanjutkan kehidupan, untuk kembali membangaun hidup yang lebih berarti, hidup yang lebih bermakna. Itulah hidup yang sedang dan akan kita jalani dan tak akan pernah berakhir hingga ajal menjelang.
Ketauhilah saudaraku....., Jalan kehidupan yang kita jalani masih panjang, masih banyak hal yang perlu kita benahi, perlu kita perbaiki, suatu ketika Rasulullah Saw bersabda:”Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung dan barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, dia adalah orang yang merugi dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dia adalah orang yang binasa (celaka)”.
Akankah kita termasuk golongan yang rugi? Saya yakin tak ada satupun di dunia ini yang menginginkan suatu kerugian dalam hidupnya. Kini apa yang kita pilih? Kehidupan yang berarti atau kehidupan yang statis yang tak pernah ada perubahan? Hidup memang pilihan, sekarang tinggal kita memilih ketakwaan atau kerugian? Allah berfirman dalam Qs As-Syam: “Maka Allah mengilhamkan jalan kepasikan dan ketakwaan”.
Tak ada kata terlambat berubah menuju lebih baik, berbenah diri, memperbaiki diri, menata diri memperbaiki kehidupan. Namun terkadang kita bingung apakah yang harus kita kerjakan terlebih dahulu?
Bagi orang yang beriman dia akan menyadari bahwa kesedihan itu hanyalah ujian dari Allah untuk menguji keimanan seorang hambaNya. Ketika menyadari hal itu dia akan menyikapinya dengan hati yang tenang, sambil berusaha mencari hikmah di balik kesedihan itu.
Kedua dengan memperbanyak membaca al Quran , karena al Quran merupakan penenang hati, penyejuk jiwa, yang menjadikan pembacanya tak gelisah. Bacalah al Quran, resapi setiap ayat yang keluar dari lisan kita serta pahami maknanya.
Ketahuilah saudaraku........,bahwa kesedihan itu merupakan ujian dariNya sebagai bukti kasih sayangNya terhadap hambanNya. Allah hanya menguji kita sesuai dengan kadar kemampuan kita. :la yukalipulahu nafsan ila wus’aha. Tidaklah Allah membebani seorang hamba kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya.
Seyogyanya kita meyadari bahwa semuanya milik Allah dan akan kembali kepada pemiliknya. Inna lillahi wainna ilaihi rojiun. Dialah yang berhak atas segala sesuatu. [as]
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar