
Hampir disetiap peradaban anak Adam, selalu terdapat segelintir manusia yang istimewa. Mereka menjadi istimewa karena hidupnya bukan sekedar untuk bisa bertahan hidup, tetapi hidup dalam kehidupan. Bahkan kematiannyapun tidak bisa digambarkan hanya dengan tiga kalimat : nama fulan bin fulan, lahir dan wafat tanggal sekian. Namun ribuan kata dan goresan penapun tidak mampu melukiskan “amal shaleh yang dilakukannya selama hidup“ merekalah orang-orang yang telah membuktikan cintanya pada Sang Khalik.Diantara orang yang namanya terlukis diatas tinta emas adalah:
Sa'ad bin Abi Waqqash r.a. Beliau merupakan salah satu sahabat Rasulullah yang memiliki kecintaan luarbiasa terhadap ibunya. Suatu ketika ibunya mengetahui bahwa anaknya telah menyatakan diri masuk islam dihadapan Rasulullah.Sang ibu kecewa sekali mendapati anaknya berseberangan keyakinan dengan apa yang telah terwarisi secara turun-temurun. Kemudian Sang ibu pun mengancam dengan mogok makan berhari-hari. Suatu ketika Sa'ad mendapati Ibunya dalam kepayahan yang sangat,kemudian sang ibu berkata,“wahai Ananda darah dagingku, tegakah Engkau melihat ibumu dalam keadaan seperti ini?Ibu mohon kembalilah engkau pada ajaran nenek moyang kita. Jika engkau mencintai ibu segera tinggalkan Muhammad SAW.” Sa'ad tertegun sejenak! kemudian dengan tenang Ia menjawab“ Wahai ibunda! sekiranya ibu punya seratus nyawa, kemudian satu-persatu nyawa tersebut keluar dihadapan Ananda, niscaya Ananda tidak akan pernah meninggalkan Muhammad Rasululloh SAW”.Setelah mendengar pernyataan Sa'ad dan mengetahuai keteguahan anaknya yang kuat laksana baja, akhirnya hati sang Ibupun luluh dan bergabung bersama anaknya memeluk ajaran Islam.
Yang kedua adalah Umar Mukhtar, Pejuang Islam “ Singa Padang Pasir.” Beliau merupakan mujahid Islam yang lahir ditengah kemelut perang Libya dengan Italy. Pada saat itu pembantaian dan pembunuhan merupakan phenomena yang acap kali disaksikan tiap waktu. Hal itulah yang membuatnya bertekad untuk mengusir segala bentuk penjajahan, sejak kecil. Sifat pemberani dan pantang menyerah menjadi warna dalam kepribadiannya. Setelah dewasa, Umar Mukhtar bersama para pejuang lain mampu mematahkan berbagai serangan yang dilakukan oleh musuhnya. Hal ini menambah geram sang komandan pasukan Italy, untuk segera menjebak dan menangkap Umar Mukhtar '' Singa Padang Pasir”. Namun berkat karuni Allah, berbagai rencana dan strategi musuh dapat digagalkan dengan cara yang tidak pernah diduga. Sampai ahirnya Allah berkehendak lain, Umar Mukhtarpun tertangkap dan dipenjara dengan pengamanan yang sangat ketat. Lewat pengadilan sepihak, akhirnya Umar Mukhtar diputus hukum gantung. Semoga dua kisah diatas menjadi bahan renungan atas pengorbanan untuk tegaknya Agama Allah swt.
Abu Ali Ibn Sina belumlah genap berusia 20 tahun ketika mengenal sejumlah cabang ilmu pengetahuan pada masanya. Ia berada di urutan teratas dalam penguasaan teologi, ilmu alam, matematika, dan ilmu-ilmu agama. Suatu saat, ia menghadiri kuliah Ibn Miskawih, seorang sarjana mashur pada zaman tersebut. Dengan penuh keangkuhan, ia melemparkan sejenis kenari ke Ibn Miskawih dan berkata,”Tentukalah permukaannya”. Ibn Miskawih pun meletakan beberpa lembar kertas tentang akhlak dan pendidikan dari buku Taharah Al Ar’aq ke hadapan Ibn Sina dan berkata,”Pertama-taman, perbaikilah tingkah laku dan tindakanmu hingga aku menentukan permukaan kenari ini. Lebih penting bagimu untuk mengubah akhlak ketimbang mengetahui permukaan kenari itu.” Mendengan sentilan ini, Ibn Sina meras malu.
Ucapan tersebut memberi manfaat besar sepanjang hidupnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar