Dengan segala kekuasaannya terlahirlah dunia beserta alam semesta dan isinya. Dunia fana diciptakan bagi ummatNya sebagai kholifah fil ardhi yaitu manusia yang dengan akal fikiran dan nafsunya ia menjadi makhluk paling sempurna namun tak heran apabila melanggar aturan atau perintahNya ia akan menjadi mahluk lebih hina daripada hewan melata.
Faktor apa saja yang membuat insan hina? Diantaranya ialah tamak atau rakus terhadap dunia sehingga berjangkitlah penyakit hubbuddunya wa karohiyatul maut (cinta dunia dan takut mati). Yang kedua kufur nikmat dimana pada saat ini qolbu dan akal pikiran jernih tertutup oleh fatamorgana kehidupan fana.Adapun selanjutnya adalah kita harus sabar dalam menghadapi segala ujian dan cobaan dari Alloh swt. sebagai tolak ukur keimanan seorang insan.
Membicarakan kata sabar lebih mudah, namun untuk merealisasikanya tak segampang membalikan telapak tangan, sebab untuk mencapai golongan shobirin seperti Rosululloh saw. membutuhkan proses yang lama dan menghadapi godaan yang lebih berat, Alloh swt. memberikan gambaran kepada kita dalam kitabNya mengenai jaminan bagi kaum shobirin sebab tidak semata-semata Alloh kemberikan sesuatu kepada umatNya yang sekiranya tidak mampu (QS. 2:286), dan dibalik tabir tersebut terdapat hikmah sangat besar sehingga membuat insan terangkat derajatnya baik di dunia maupun di akhirat tanpa batas hitungannya sebagaimana kalamNya dalam surat Az-Zumar ayat 10.
Disisi lain Alloh menguji manusia dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan hasil kekayaan, kematian dan kekurangan makanan, tapi semua itu hanyalah sedikit dan sementara, oleh karena itu pergunakanlah kesempatan yang sebentar tersebut untuk mencapai segala cita dan karya sesuai dengan firmanNya :”Pergunakanlah untuk mencapai tujuanmu dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Alloh telah membantu orang-orang yang sabar.” (QS. 2:153).
Kehidupan ini misteri sehingga membuat manusia selalu ingin memikirkannya, kala suka, duka ada, pria lahir, wanita mengikuti. Ada siang malampun tiba. Namun semua itu sudah menjadi alur cerita yang dibuat sedemikian rupa oleh sang kholiq hingga sampai detik ini tak ada satu makhluk pun yang mengetahui takdirnya terlebih dahulu, oleh karena itu salah satu resep untuk menghadapi hidup dan kehidupan ialah dengan membaca, tafakur dan tadabur dalam kaidah-kaidahNya serta uswah Nabi-NabiNya.
Memelihara sabar berarti memupuk benih pahala yang dapat merubah bala menjadi satu kenikmatan. Karena hati menyadari bahwasanya semua yang ada sementara belaka. Mari kita jadikan jiwa dan raga kita untuk menjadi bagian dari kaum sabar dalam menghadapi lika-liku kehidupan dan mudah-mudahan Alloh swt. senantiasa membimbing kita. Amiiin…
Wallahu a’lam bishshawab.
Kamis, 25 Juni 2009
Hidup Adalah Ujian
Dalam kehidupan yang penuh dengan kenikmatan, terkadang kita terlena oleh kenikmatan tersebut. Begitupun bila hidup di rundung dengan kesedihan, sering kali kita terjebak dengan kesedihan itu, sehingga akhirnya tak ada gairah untuk melanjutkan kehidupan, untuk kembali membangaun hidup yang lebih berarti, hidup yang lebih bermakna. Itulah hidup yang sedang dan akan kita jalani dan tak akan pernah berakhir hingga ajal menjelang.
Ketauhilah saudaraku....., Jalan kehidupan yang kita jalani masih panjang, masih banyak hal yang perlu kita benahi, perlu kita perbaiki, suatu ketika Rasulullah Saw bersabda:”Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung dan barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, dia adalah orang yang merugi dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dia adalah orang yang binasa (celaka)”.
Akankah kita termasuk golongan yang rugi? Saya yakin tak ada satupun di dunia ini yang menginginkan suatu kerugian dalam hidupnya. Kini apa yang kita pilih? Kehidupan yang berarti atau kehidupan yang statis yang tak pernah ada perubahan? Hidup memang pilihan, sekarang tinggal kita memilih ketakwaan atau kerugian? Allah berfirman dalam Qs As-Syam: “Maka Allah mengilhamkan jalan kepasikan dan ketakwaan”.
Tak ada kata terlambat berubah menuju lebih baik, berbenah diri, memperbaiki diri, menata diri memperbaiki kehidupan. Namun terkadang kita bingung apakah yang harus kita kerjakan terlebih dahulu?
Bagi orang yang beriman dia akan menyadari bahwa kesedihan itu hanyalah ujian dari Allah untuk menguji keimanan seorang hambaNya. Ketika menyadari hal itu dia akan menyikapinya dengan hati yang tenang, sambil berusaha mencari hikmah di balik kesedihan itu.
Kedua dengan memperbanyak membaca al Quran , karena al Quran merupakan penenang hati, penyejuk jiwa, yang menjadikan pembacanya tak gelisah. Bacalah al Quran, resapi setiap ayat yang keluar dari lisan kita serta pahami maknanya.
Ketahuilah saudaraku........,bahwa kesedihan itu merupakan ujian dariNya sebagai bukti kasih sayangNya terhadap hambanNya. Allah hanya menguji kita sesuai dengan kadar kemampuan kita. :la yukalipulahu nafsan ila wus’aha. Tidaklah Allah membebani seorang hamba kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya.
Seyogyanya kita meyadari bahwa semuanya milik Allah dan akan kembali kepada pemiliknya. Inna lillahi wainna ilaihi rojiun. Dialah yang berhak atas segala sesuatu. [as]
Ketauhilah saudaraku....., Jalan kehidupan yang kita jalani masih panjang, masih banyak hal yang perlu kita benahi, perlu kita perbaiki, suatu ketika Rasulullah Saw bersabda:”Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung dan barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, dia adalah orang yang merugi dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dia adalah orang yang binasa (celaka)”.
Akankah kita termasuk golongan yang rugi? Saya yakin tak ada satupun di dunia ini yang menginginkan suatu kerugian dalam hidupnya. Kini apa yang kita pilih? Kehidupan yang berarti atau kehidupan yang statis yang tak pernah ada perubahan? Hidup memang pilihan, sekarang tinggal kita memilih ketakwaan atau kerugian? Allah berfirman dalam Qs As-Syam: “Maka Allah mengilhamkan jalan kepasikan dan ketakwaan”.
Tak ada kata terlambat berubah menuju lebih baik, berbenah diri, memperbaiki diri, menata diri memperbaiki kehidupan. Namun terkadang kita bingung apakah yang harus kita kerjakan terlebih dahulu?
Bagi orang yang beriman dia akan menyadari bahwa kesedihan itu hanyalah ujian dari Allah untuk menguji keimanan seorang hambaNya. Ketika menyadari hal itu dia akan menyikapinya dengan hati yang tenang, sambil berusaha mencari hikmah di balik kesedihan itu.
Kedua dengan memperbanyak membaca al Quran , karena al Quran merupakan penenang hati, penyejuk jiwa, yang menjadikan pembacanya tak gelisah. Bacalah al Quran, resapi setiap ayat yang keluar dari lisan kita serta pahami maknanya.
Ketahuilah saudaraku........,bahwa kesedihan itu merupakan ujian dariNya sebagai bukti kasih sayangNya terhadap hambanNya. Allah hanya menguji kita sesuai dengan kadar kemampuan kita. :la yukalipulahu nafsan ila wus’aha. Tidaklah Allah membebani seorang hamba kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya.
Seyogyanya kita meyadari bahwa semuanya milik Allah dan akan kembali kepada pemiliknya. Inna lillahi wainna ilaihi rojiun. Dialah yang berhak atas segala sesuatu. [as]
Kamis, 18 Juni 2009
Indahnya Berbagi

Berbagi dalam istilah agama Islam dikenal dengan Zakat. Dalam ilmu balagoh kata Zakat merupakan bentuk masdar dari kata kerja Zakaa-Yazkii- Zakaatan. Kata Zakat berarti suci, tumbuh berkembang penuh keberkahan. Secara terminologis atau syar'i zakat mempunyai arti mengeluarkan sebagian harta (berbagi) dengan persyaratan tertentu kepada kelompok tertentu (mustahik zakat) dengan syarat-syarat tertentu pula. Mengeluarkan zakat hukumnya wajib bagi muzaki (orang yang mengeluarkan zakat) yang hartanya sudah nishob (memenuhi batas minimal membayar zakat).
Dalam ajaran Islam membayar zakat merupakan bagian dari rukun Islam bercorak sosial-ekonomi. Sehingga letak hukum wajib hanya dibebankan kepada para agniya (orang kaya). Membayar zakat merupakan bukti perwujudan keimanan seseorang terhadap Allah SWT, dan merupakan bukti keyakinan akan kebenaran ajaran-Nya. Oleh karena itu tidaklah berlebihan kalau zakat dikatakan sebagai ibadah dibidang harta yang memiliki posisi dan kedudukan yang sangat penting dan strategis dalam membangun kesejahteraan, mengentaskan kemiskinan, dan meningkatkan kegitan ekonomi umat.
Hanya saja sangat disayangkan di negara kita zakat belum dikelola secara maksimal, sehingga dampak keberkahan dari zakat belum bisa dirasakan secara utuh.
Oleh karena itulah ulama-ulama Islam tempo dulu telah menumpahkan perhatian besar untuk membahas hukum dan makna zakat itu sesuai dengan spesialisasi ilmu masing-masing. Para Fuqoha, mereka membahas zakat berdasarkan ilmu fiqih. Mereka berpendapat bahwa zakat adalah ibadah kedua didalam Islam. Selain itu, zakat merupakan bagian dari system moneter dan social Islam. Dan mereka Para mufassirin (ahli tafsir) membahas zakat dengan menafsirkan ayat-ayat zakat secara jelas dan komprehensif.
Berbicara masalah zakat tentu bagi kita sebagi seorang Muslim sudah tidak asing lagi, namun permasalahannya sudahkah kita merealisasikan zakat dalam kehidupan kita. Mungkin hanya sebagian kecil dari kita yang telah memenuhi kewajiban zakat ini. Sebab pada kenyataannya masih banyak saudara kita yang hidup dibawah garis kemiskinan.
Padahal potensi zakat di Indonesia sesungguhnya sangat besar. Menurut mantan Mentri Agama RI, Said Munawwar, bahwa potensi zakat di Indonesia per-tahun mencapai 7.5 - 12 trilliun rupiah. Suatu jumlah yang tidak kecil.Jika potensi zakat yang demikain besar itu bisa di gali dan dikelola dengan baik tentu akan berdampak pada peningkatan pemberdayaan ekonomi umat dan pembangunan bagi bangsa ini.
Al Quran Sebagai Petunjuk

Sepintas kita bingung atas sikap pemerintah kita yang mencari jalan keluar dari berbagai permasalahan yang menimpa negeri ini. Saat ini pemerintah sedang serius-seriusnya menghadapi masalah-masalah yang menimpa negeri ini dari mulai masalah terkecil sampai masalah terbesar. Carut marutnya perpolitikan, tidak jelasnya system perekonomian, tidak adanya keadilan dalam hukum, meningkatnya kriminalitas mulai dari perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, penipuan, banyaknya pengangguran, meningkatnya kemiskinan yang berujung pencurian, maraknya minuman keras dan obat-obatan terlarang yang menyebabkan kematian, makin banyaknya pasien rumah sakit jiwa akibat stress, banyaknya kematian akibat gizi buruk, makin banyaknya koruptor, dan masih banyak lagi masalah yang dihadapi bangsa ini. Tapi masalah ini tak pernah terselesaikan.
Berbagai macam cara dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini mulai dari membentuk KPK, membuat undang-undang, mengadakan hubungan bilateral dan multilateral, mengadakan diplomasi. Tapi sama sekali tidak ada perubahan walaupun telah berganti rezim, berganti presiden. Karena yang menjadi payungnya adalah system demokrasi, sekularisme dan kapitalisme yang hanya akan menambah penderitaan rakyat saja.
Pemerintah kita ini ibarat orang yang kebingungan untuk menuju suatu tempat yang jauh dan banyak arahnya. Padahal petunjuk dipinggir jalan sudah jelas sekali kelihatan. Tapi orang itu malah membuat peta sendiri, dan petunjuk yang ada di pinggir jalan itu dihiraukannya, akibatnya tersesatlah ia bahkan berimbas stres tidak bisa mencapai tujuan. Petunjuk tersebut tidak lain adalah Al Quran dan sunnahnya.
Al-Quran surat Al-Baqoroh ayat 2 menyuruh kita untuk mengikuti petunjukNya. Kita sering meminta kepada Alloh agar selalu di tunjukan kejalan yang lurus, “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.”(Qs. Al Fatihah: 6). Lalu surat Al-Baqoroh menjawab: “Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan didalamnya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.” Tapi kebanyakan manusia mengingkarinya dan menjauhi Al-Quran. Padahal Al-Quran merupakan sumber penyelesaian segala permasalahan. Sebagaimana firmanNya dalam Q.S Al Baqarah ayat 23: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad), Buatlah satu surat (saja) yang semisal al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Alloh, jika kamu orang-orang yang benar “.
Masyarakat saat ini terus dibohongi oleh system yang ada, bahkan masyarakat sendiri acuh tak acuh dalam menghadapi permasalahan ini. Anehnya lagi, masih ada orang yang memperjuangkan system buatan manusia yang sudah puluhan tahun berada dalam kebobrokan dan tidak menghasilkan apa-apa. Yang ada hanyalah kehancuran-kehancuran yang menimpa bangsa ini, sadarkah kita ?
Maka dari itu sadarlah kita semua bahwa Al-Quran yang sudah ditetapkan Alloh sebagai sumber hukum harus kita perjuangkan untuk dijadikan undang-undang Negara dan sebagai falsafah negeri ini. Maka marilah kita dirikan syari'ah tegakan khilafah. Allohu Akbar, Allohu Akbar…!!![as]
Minggu, 14 Juni 2009
Urgensi Faroid

“Bagilah harta pusaka antara ahli-ahli waris menurut Kitabullah (Quran).”(Riwayat Muslim dan Abu Dawud).Lafazh al-Faraid (waris), merupakan bentuk jamak dari lafazh faridah, yang oleh para ulama kata Faradhiyun diartikan semakna dengan lafazh mafrudhah, yakni bagian yang telah dipastikan kadarnya. Selanjutnya lafazh fardhu, sebagai suku kata dari lafazh faridhah, yang menurut bahasa mempunyai beberapa arti diantaranya Taqdir, yakni suatu ketentuan sebgaimana dijelaskan dalam firman Allah surat al-Baqarah: 237, dan ada juga yang mengartiakn Qath'i yakni ketetapan yang pasti seperti dalam firman Allah, surat an-Nisa:7 : “… dan bagi wanita ada bagian dari apa yang ditingalkan oleh kedua orang tua dankerabat-kerabat baik sediita ataupun banyak, sebagai suatu bagian yang telah ditetapkan.”
Bagi umat islam melaksanakan peraturan-peraturan syri'at yang ditunjuk oleh nash-nash yang sharih, meski dalam soal pembagian harta pusaka sekalipun, adalah suatu keharusan (wajib), selama peraturan tersebut tidak ditunjuk oleh dalil nash yang lain yang menunjukan ketidak-wajiban. Bahkan didalam surat an-Nisa ayat 13 dan 14, tuhan akan menempatkan sorga selama-lamanya bagi orang-orang yang mentaati ketentuan pembagian harta pusaka(waris) dan memasukan ke neraka untuk selama-lamanya bagi orang-orang yang tidak mengindahkannya.
Allah berfirman : “dan barang siap[a mendurhakai allah dan Rosul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, Allah bakal memasukannya kedalam neraka sedang ia kekal didalamnya dan baginya siksa yang menghinakan.” (an-Nisa : 14
Dalam kehidupan kita sekarang, khususnya ummat islam dalam bidang waris atau pusaka mempusakai dari harta yang ditinggalkan oleh seseorang, sering menyebabkan timbulnya persengketaan diantara ahli waris. Hal itu biasanya disebabkan karena setiap ahli waris sama-sama merasa berhak untuk mendapatkan bagian dari harta yang ditinggalkan almarhum/mah. Bahkan terkadang dalm hal pembagian harta warisan mereka tidak menetapkan bagian yang sesuai dengan apa yang termaktub dalam al-quran, mereka membagikan harta warisan itu dengan membagikannya sama rata baik itu antara laki-laki dan perempuan, antara saudara, ayah, ibu, suami, istri dan lain sebagainya. Padahal al-Quran telah menjelaskan secara terperinci bagian buat anak laki-laki, perempuan, ayah dan ibu bahkan saudara. Sebagai contoh al-Quran menjelaskan bahwa bagian bagi anak laki-laki sama dengan dua bagian anak perempuan. Hal ini sebagiaman dijelaskan dalam al-Quran surat an-Nisa;33 “ Allah Ta'ala mewasyiatkan bagimu mengenai anak-anakmu, (yakni) bagian seorang nak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan….dst.
Sepintas lalu, ayat ini seolah menggambarkan bahwa pembagian 2:1 ini meeupakan kezaliman pertama yang dilakukaniIslam terhadapa kaum perempuan, karena tidak adanya persamaan hak. Bahkan sebagianyang lain berpendapat ini melanggar kebesan hak asasi manusia. Padahaal kaita bisa melihat bahwa keadilan Islam telah meminta suami menafkahkan istri, begitu juga laki-laki menafkahkan saudara perempuannya.'' Dengana demikian ½ bagian tetap menjadi milik perempuan plus diapun mendapatkan harta dari suami yang berkewajiban menafkahinya. Jadi siapa yang mendaptkan bagian yang paling banyak? Jawabnya : Perempuan. Alangkah indanhnya tindakan Allah sebagai Sang Pencipta mahluk (manusia). Dia menjadikan bagian perempuan sebagi standar, ini tentunya merupakan bukti betapa Islam sangat memulyakan kaum perempuan. Mungkin kita bertanya kenapa Islam sangat memulyakankaum perempuan bahkan sampai ketik sahabat bertanya kepada Rasulullah” Ya Rasulullah sipakah orang yang harus aku hormati “Ibumu, Ibumu sampai tiga kali. Salah satunya karena mereka merupakan lambang kehormatan yang harus dijaga dan dipelihara.
Serenta akidah mereka bertambah kuat dan satu sama lain telah terpupuk rasa cinta mencintai, apalagi kecintaan mereka kepada Rasulullah sendiri sudah sangat mesra, perkembangan agama islam makin maju, pengikut-pengikut agama Islam bertambah banyak, pemerintahan Islam sudah stabil dan lebih dari itu penaklukan kota mekkah telah berhasil dengan sukses, maka kewajiban hijrah yang semula sebagai media untuk menyusun kekuatan antara orang muslim dari mekah dengan orang muslim dari medinah dicabut dengan sabda beliau yang bebunyi :“Tidak ada kewajiban berhijrah lagi setelah penaklukan kota mekkah.” (muttafaq 'alaih).
Demikianlah proses penerapn ilmu waris (Faraid) menurut pendapat jumhur ulama, Wallhu a'alam.
Mencegah Krisis Akhlak

Dunia sepertinya sudah kusut dan jungkir balik. Betapa tidak, masyarakat dunia saat ini khususnya di Indonesia yang mayoritas beragama islam bukannya bangga menyandang identitas sebagai muslim, yang mana jiwa seorang muslim dan muslimah mempunya iidentitas akhlakul karimah (akhlak yang mulia).
Tetapi, kita lihat relaita sangat bertolak belakang. Tidak sedikit kaum remaja yang melanggar agama dan tidak berakhlak. Maka mereka dengan seenaknya berbuat bebas tanpa batas. Mereka lebih senang hidup glamor dan funkisme dengan gaya barat yang sama sekali bukan ciri kepribadian seorang muslim. ironisnya, mereka merasa bangga sampai diagung-agungkannya. Padahal dunia yang semakin semrawut ini memerlukan sekali sosok muslim yang memiliki jati diri sebagai manusia yang senantiasa ada dalam naungan islam untuk menjungjung tinggi akhlak yang mulia.
Disisi lain Kita lihat banyak sekali orang-orang kaya dan para pejabat yang hancur akhlaknya. Tujuan para pejabat itu hanya mengumpulkan harta dan memperoleh jabatan tinggi. Untuk itu mereka beranai melakukan apapun bahkan sampai menghalalkan segala cara. Setiap harinya mereka merasa gelisah memikirkan bagaimana caranya memperolah harta yang melimpah. Terus dan terus memikirkan itu. Tanpa ada sedikitpun mereka memikirkan bagaimana caranya agar dicintai Allah, agar Allah mengampuni dosa-dosanya.Mereka sudah membelakangkan kehidupan akhirat dengan tertanamnya sifat hedonisme.
Bandingkan dengan pribadi Nabi Muhammad Saw. Beliau adalah contoh teladan umat manusia sepanjang zaman. Orang yang mengikuti tuntunan dan keteladanannya hidupnya akan penuh dengan kebaikan, tutur katanya selalu menyejukkan hati, begitu pula perilakunya membuat orang lain senang bersama dengannya. Bahkan kehidupannya pun selalu dirindukan oleh banyak orang. Allah swt. berfirman dalam Q.S. al-Ahzab ayat 21: “Sungguh telah ada pada diri Rosul itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah”.
Maka dari itu untuk mencegah krisis akhlak yang sedang melanda ada beberapa hal yang harus dilakukan diantaranya: Pertama: jujur, dengan kejujuran akan menumbuhkan jalinan kepercayaan diantara mereka. Kedua: perlu ditekankannya sikap amanah, yang akan melahirkan jalinan social kemasyarakatan yang kuat dan kokoh. Ketiga: tumbuh dan melekatnya iffah pada diri seseorang muslim yaitu, dengan menjaga harga diri dan mengendalikan diri supaya tidak terjerumus kedalam kemadlorotan sehingga akan tumbuh subur ikata social dalam masyarakat yang saling menghargai dan menghormati, saling menjaga harga diri dan kehormatan sesamanya. Sebagaimana sabd Rosul :“Seorang muslim menjadi mulia karena agamanya, mempunyai kepribadian karena akalnya dan menjadi terhormat karena akhlaknya”. Keempat: mampu membentengi diri dari perbuatan dosa. Dan Kelima : menghindari diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat baik untuk diri sendiri, keluarga maupun masyarakat luas, sebagimana rosul bersabda : “Diantara tanda-tanda kebaikan keislaman seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak berguna baginya.
Jumat, 05 Juni 2009
Kembali Ke Tauhidullah

Kata Tauhid dalam gramatika B. Arab, merupakan bentuk masdar dari kata kerja Tawaahada (Tafaa'ala) yang artinya meng-Esakan. Sehingga Tauhidulloh arti lengkapnya adalah meng-Esakan Allah. Esa dalam zat-Nya juga Esa dalam sifat-Nya.Rasulullah SAW, bersabda: “ Aku disuruh supaya memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan kecuali Allah dan bahwa Muhamad adalah utusan Allah, mendirikan shalat dan membayar zakat
Berdasarkan hadist diatas kita bisa mengetahui bahwa menanamkan akidah (Tauhidullah) dikalangan umat manusia, merupakan pangkal bit'sah kenabian Muhammad Rasulullah SAW. Itu pulalah yang secara mendasar membedakan agama islam yang diabawa Rasululloh Muhammad SAW, dari agama-agama lain yang di peluk oleh umat manusia pada masa itu (Jahiliyah). Bukan suatu kebetulan dan bukan pula tanpa tujuan kalau ayat-ayt al-Quran yang turun di Makkah(surat Makiyyah) selama 13 tahun menekankan suatu persoalan pokok, yaitu soal ke-Esaan Allah, yakni suatu akidah yang tanpa ragu-ragu mempercayai dan meyakini tiada suatu apapun yang berhak disembah selain Allah.
Rasulullah berjuang meluruskan Tauhid orang Arab Mekah bukan semata-mata karena orang Arab pada jaman itu tenggelam dalam kemaksiatan dan kemunkaran serta penyembahan berhala tetapi karena soal Tauhid merupakan poros semua segi kehidupan manusia. Tidak ada apapun yang lurus dan benar, kecuali jika aqidah mengenai ke-Esaan Allah(Tauhidulloh) telah lurus dan mantap di dalam pikiran dan perasaan kita. Sebab aqidah itulah yang melandasi semua segi kehidupan dan perilaku kita. Baik buruknya amaliyah seseorang bergantung kepada sejauh mana nilai Tauhidullah yang dimilikinya. Dengan kata lain aqidah (Tauhidullah) merupakan pondasi pergerakan manusia. Baik buruknya amaliyah seseorang bergantung kepada sejauh mana nilai Tauhidullah yang dimilikinya.
Kenyataan tersebut dapat kita buktikan dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat menyaksikan dengan mudah, betapa banyak manusia berbuat serong dan menyeleweng dari syariat Islam, sedemikian jauh akibat penyelewengan fikiran mereka mengenai soal ketuhanan. Tidak sedikit orang yang mengakui keberadaan Allah sebagai Dzat yang Maha Kuasa, tetapi pengakuan mereka tidak di sertai fikiran sehat, fikiran bulat, tidak disertai kepercayaan yang mantap dan tidak pula disertai tekad yang bulat.
Padahal sedikitnya dalam shalat lima waktu kita selalu mengulang-ulang kalimat Tauhid sebagai bentuk penyerahan dan pengakuan akan ke-Maha Esaan dan ke-Mahabesaran Allah SWT. Dalam kalimat tersebut kita berikrar bahwa: “ Ashadu an-laa ilaha illallahu wa-ashadu anna Muhammadarrosuululloh ” Saya bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan selian Allah, dan Muhammad itu utusan Allah.
Kalimat “laa ilaha illalloh” yang artinya tiada tuhan selain Alloh, mengandung dua hal, pertama, an-nafyu/peniadaan, dan yang kedua adalah al-itsbat/penetapan. Dalam kalimat ini, pertama Alloh meniadakan keberadaan sekutu bagi diri-Nya, selain itu, dia mempermaklumkan keesaan-Nya. “laa ilaha illalloh” yang artinya tiada tuhan selain Alloh. Walaupun banyak tuhan-tuhan selain-Nya yang pernah disembah suatu kaum dalam kurun waktu tertentu, baik berupa patung-patung ataupun bintang-bintang, jelaslah bahwa seluruh sembahan itu adalah batil. Kebenaran tiada tuhan melainkan Alloh terbukti dengan tidak adanya tandingan dari tuhan-tuhan lain yang membuktikan bahwa mereka tuhan.
Hal ini diperkuat dengan adanya ungkapan ''Laa ilah” dimana huruf laa untuk peniadaan, dan ketika kita sempurnakan dengan illa Allah, maka huruf Illa berpungsi untuk menetapkan. Maka dengan demikian kalimat “laa ilaha illalloh” maknanya tiada tuhan selaian Alloh yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya tidak ada yang layak disembah dengan hak selain Alloh. Dan kata“Allah” adalah sesuatu Zat yang wajib al wujud (harus ada) atau bersipat mutlak keberadaannya.
Walllahu a'alam
Benarkah kita mencinai Allah

Hampir disetiap peradaban anak Adam, selalu terdapat segelintir manusia yang istimewa. Mereka menjadi istimewa karena hidupnya bukan sekedar untuk bisa bertahan hidup, tetapi hidup dalam kehidupan. Bahkan kematiannyapun tidak bisa digambarkan hanya dengan tiga kalimat : nama fulan bin fulan, lahir dan wafat tanggal sekian. Namun ribuan kata dan goresan penapun tidak mampu melukiskan “amal shaleh yang dilakukannya selama hidup“ merekalah orang-orang yang telah membuktikan cintanya pada Sang Khalik.Diantara orang yang namanya terlukis diatas tinta emas adalah:
Sa'ad bin Abi Waqqash r.a. Beliau merupakan salah satu sahabat Rasulullah yang memiliki kecintaan luarbiasa terhadap ibunya. Suatu ketika ibunya mengetahui bahwa anaknya telah menyatakan diri masuk islam dihadapan Rasulullah.Sang ibu kecewa sekali mendapati anaknya berseberangan keyakinan dengan apa yang telah terwarisi secara turun-temurun. Kemudian Sang ibu pun mengancam dengan mogok makan berhari-hari. Suatu ketika Sa'ad mendapati Ibunya dalam kepayahan yang sangat,kemudian sang ibu berkata,“wahai Ananda darah dagingku, tegakah Engkau melihat ibumu dalam keadaan seperti ini?Ibu mohon kembalilah engkau pada ajaran nenek moyang kita. Jika engkau mencintai ibu segera tinggalkan Muhammad SAW.” Sa'ad tertegun sejenak! kemudian dengan tenang Ia menjawab“ Wahai ibunda! sekiranya ibu punya seratus nyawa, kemudian satu-persatu nyawa tersebut keluar dihadapan Ananda, niscaya Ananda tidak akan pernah meninggalkan Muhammad Rasululloh SAW”.Setelah mendengar pernyataan Sa'ad dan mengetahuai keteguahan anaknya yang kuat laksana baja, akhirnya hati sang Ibupun luluh dan bergabung bersama anaknya memeluk ajaran Islam.
Yang kedua adalah Umar Mukhtar, Pejuang Islam “ Singa Padang Pasir.” Beliau merupakan mujahid Islam yang lahir ditengah kemelut perang Libya dengan Italy. Pada saat itu pembantaian dan pembunuhan merupakan phenomena yang acap kali disaksikan tiap waktu. Hal itulah yang membuatnya bertekad untuk mengusir segala bentuk penjajahan, sejak kecil. Sifat pemberani dan pantang menyerah menjadi warna dalam kepribadiannya. Setelah dewasa, Umar Mukhtar bersama para pejuang lain mampu mematahkan berbagai serangan yang dilakukan oleh musuhnya. Hal ini menambah geram sang komandan pasukan Italy, untuk segera menjebak dan menangkap Umar Mukhtar '' Singa Padang Pasir”. Namun berkat karuni Allah, berbagai rencana dan strategi musuh dapat digagalkan dengan cara yang tidak pernah diduga. Sampai ahirnya Allah berkehendak lain, Umar Mukhtarpun tertangkap dan dipenjara dengan pengamanan yang sangat ketat. Lewat pengadilan sepihak, akhirnya Umar Mukhtar diputus hukum gantung. Semoga dua kisah diatas menjadi bahan renungan atas pengorbanan untuk tegaknya Agama Allah swt.
Abu Ali Ibn Sina belumlah genap berusia 20 tahun ketika mengenal sejumlah cabang ilmu pengetahuan pada masanya. Ia berada di urutan teratas dalam penguasaan teologi, ilmu alam, matematika, dan ilmu-ilmu agama. Suatu saat, ia menghadiri kuliah Ibn Miskawih, seorang sarjana mashur pada zaman tersebut. Dengan penuh keangkuhan, ia melemparkan sejenis kenari ke Ibn Miskawih dan berkata,”Tentukalah permukaannya”. Ibn Miskawih pun meletakan beberpa lembar kertas tentang akhlak dan pendidikan dari buku Taharah Al Ar’aq ke hadapan Ibn Sina dan berkata,”Pertama-taman, perbaikilah tingkah laku dan tindakanmu hingga aku menentukan permukaan kenari ini. Lebih penting bagimu untuk mengubah akhlak ketimbang mengetahui permukaan kenari itu.” Mendengan sentilan ini, Ibn Sina meras malu.
Ucapan tersebut memberi manfaat besar sepanjang hidupnya.
Langganan:
Postingan (Atom)

