Minggu, 31 Mei 2009

Mengislamkan Akhlak Kita


Kata akhlak berasal dari bahasa arab, jamak dari kata Khuluqun, yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Sedangkan pengertian akhlak secara utuh banyak sekali, sebagaimana yang diartikan oleh beberapa ulama kaliber internasional yang sudah banyak melahirkan karya dan fakta.

Menurut Imam al-Ghajali, Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa, melahirkan tindakan-tindakan secara spontanitas, tanpa mengalami proses pertimbangan dan pemikiran lebih dulu”. Sedangkan menurut Prof. Dr. Ahmad Amin” Akhlak ialah kehendak yang dibiasakan”. Dari kedua pengertian diatas, Dr. M Abdullah Diroz mengambil kesimpulan bahwa: “ Akhlak adalah suatu kekuatan berupa kehendak yang mantap, yang kemudian berkombinasi dengan raga (anggota tubuh) membawa kecenderungan berbuat benar (terpuji) atau berbuat jahat (tercela). Istilah akhlak disebut juga Etika. Namun pada hakikatnya sama saja. hanya saja, kalau kata etika berasal dari bahasa Yunani “Ethos” yang berarti adat kebiasaan. Wal hasil, akhlak adalah etika dan etika adalah ahlak.

Manusia merupakan mahluk yang paling mulya, dan salah satu ciri kemulyaannya terletak pada akal dan pikiran. Selain merupakan ciri kelebihan manusia, akal pikiran juga merupakan pembeda antara manusia dan mahluk Allah lainnya. Sehingga dalam berinteraksipun manusia memiliki dua jalur komunikasi. Jalur pertama disebut hubungan vertikal yakni hubungan antara manusia dengan Allah, Tuhan yang telah menciptakannya. Konsekwensinya manusia harus beribadah kepada-Nya, Sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran, surat Az-Zariyat:56“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar menyembah kepada-Ku”.

Hubungan kedua, adalah jalur horizontal, yakni hubungan antara manusia dengan sesamanya. Hubungan ini merupakan kodrat atau pembawaan diri manusia sebagai mahluk sosial yang suka bergaul dan bermasyarakat. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Firman Allah:“Hai manusia, sesunguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. al-Hujarat ayat: 13).

Kedua jalur tersebut harus dipelihara dan duilaksanakan dengan baik, sehingga segala perbuatan dan gerak-gerik kita mendapatkan ridha Allah. Dengan demikian kita akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dalam Islam kedua jalur tersebut diatur dengan apa yang dinamakan “amal soleh” atau lebih tegasnya apa yang disebut Akhlak. Akhlak juga merupakan mutiara hidup yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya, sebab seandainya manusia hidup tanpa akhlak, maka akan hilang derajat kemanusiannya sebagai mahluk Allah dan turunlah kederajat binatang, bahkan lebih hina dari binatang buas. Setiap orang tidak akan lagi peduli akan baik dan buruk, soal halal dan haram. Hal ini adalah karena yang berperan dan berpungsi pada diri masing-masing manusia adalah elemen syahwat (nafsu)-nya yang telah mengalahkan akal dan pikiranya.

Imam al-Ghazali dalam kitabnya “Mukasyafatul Qulub” menyebutkan bahwa Allah menciptakan manusia lengkap dengan akal dan syahwatnya. Maka barang siapa yang nafsunya dapat mengalahkan akalnya, hewan melata lebih baik dari pada manusia tesebut. Sebaliknya bila manusia dengan akalnya dapat mengalahkan nafsunya, maka derajatnya berada diatas malaikat. Oleh karena itu betapa pentingnya akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Maka pantas saja kalau Rasulullah SAW bersabda:“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan Akhlak”
Wallahu a’lambishowab

Tidak ada komentar: