Rabu, 20 Mei 2009

Mendidik Anak


Siapapun menginginkan anaknya itu menjadi anak yang berhasil bahkan seorang ahli maksiatpun tidak menginginkan anaknya menjadi seperti dirinya. Pepatah mengatakan sebuas-buasnya singa tidak akan memakan anaknya sendiri. Ini menandakan bahwa setiap orang menginginkan keturunannya lebih baik dari pada dirinya.


Namun kenyataannya mendidik anak tidaklah segampang membalikkan telapak tangan. Apalagi setiap orang tua tentunya mempunyai rasa belas kasihan yang sangat terhadap buah hatinya yang kadang rasa kasih ini jika tidak dalam porsinya justru akan menjadi racun bagi si anak sehinga anak menjadi manja. Namun mendidik terlalu keras juga tidak baik.


Apa yang dicontohkan oleh Luqman Hakim terhadap anaknya merupakan teladan bagaimana seharusnya seorang ayah mendidik anaknya. Luqman Hakim memberikan fondasi pendidikan bagi anaknya dengan akidah terlebih dahulu sebelum yang lainnya.”Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar kedzaliman yang besar”.(QS. Luqman : 13)


Setelah akidah kuat, pelajaran selanjutnya adalah beribadah kepada Allah dan berbakti kepada orang tua. Sangat disayangkan orang tua sekarang lebih mengutamakan hal yang bersifat materi. Mereka tidak peduli dengan akidah anaknya yang penting bisa memperoleh pendidikan duniawi yang baik sehingga banyak orang tua muslim meyekolahkan ke sekolah-sekolah non muslim yang sangat membahayakan akidah anaknya.


Apalagi Barometer kesuksesan sekarang hanya diukur dengan materi, seperti punya harta banyak, gelar, dan jabatan. Seorang anak dianggap berhasil jika sudah punya penghasilan sekian juta dalam sebulan, sudah punya rumah, jabatan dan lainnya.


Padahal ukuran kesuksesan sejati seseorang adalah ketakwaanya. Inna akromakum indallahi atqokum. Sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang bertaqwa. Maka Lqman melanjutkan pelajaran kepada anaknya agar bertaqwa kepadaNya. “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku dirikanlah shalat dan suruhlah mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesugguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakanlah suarammu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suarau keledai. (QS.Lukman :16-19)


Anak adalah amnah, pendidkan anak merupakan tanggungjawab kita semua. Kita berharap anak-anak kita menjadi qurota a’yun, penyejuk mata, bukan menjadi musuh. Naudzu billahimin dzalik.

Tidak ada komentar: